Kepura-puraan di Balik Pemilihan “Pemimpin” Kampus yang Merindukan Integritas

Kepura-puraan di Balik Pemilihan “Pemimpin” Kampus yang Merindukan Integritas

Topeng yang Tersenyum

Di sebuah kampus ternama, masa pemilihan rektor selalu menjadi peristiwa yang dinanti. Spanduk visi-misi menghiasi sudut kampus, seminar akademik semakin ramai, dan para calon pemimpin tampil dengan wajah penuh senyum dan janji perubahan. Atau di banner-banner digital yang di share di group-group WA. Di antara para kandidat, ada seorang dosen senior yang dikenal sangat santun. Ia rajin menyapa dosen, mengunjungi pegawai, bahkan tiba-tiba menjadi lebih aktif menghadiri berbagai kegiatan kemahasiswaan dan kegiatan yang dihadiri khalayak ramai.


Namun, di balik senyum itu, beredar bisik-bisik yang sulit dibuktikan. Ada yang mengatakan bahwa dukungan tidak selalu diperoleh melalui gagasan terbaik. Ada yang menduga bahwa kedekatan tertentu, fasilitas tertentu, bahkan imbalan tertentu mulai memainkan peran dalam proses yang seharusnya menjunjung tinggi meritokrasi.


Tidak ada yang berani berbicara terang-terangan.

Semua tampak baik-baik saja.

Semua tampak bersih.

Semua tampak akademis.

Semua tampak seolah demkrotis.

Tetapi justru di situlah kepura-puraan bekerja paling sempurna.



Kebun yang Indah dari Kejauhan

Seorang dosen senior pernah bercerita kepada muridnya.


"Jika kau melihat kebun yang sangat indah dari kejauhan, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa tanahnya subur. Bisa jadi bunga-bunga itu disiram dengan air yang keruh."


Muridnya bertanya:

"Lalu bagaimana kita mengetahui kualitas tanahnya?"


Sang dosen menjawab:

"Tunggu musim berikutnya. Tanah yang baik akan terus menghasilkan kehidupan. Tanah yang buruk hanya menghasilkan bunga sesaat."


Begitu pula dengan kepemimpinan. Jabatan yang diperoleh melalui integritas akan menghasilkan kepercayaan jangka panjang. Sebaliknya, jabatan yang diperoleh melalui transaksi tersembunyi akan melahirkan utang moral yang harus dibayar sepanjang masa kepemimpinan.


Harga Sebuah Dukungan

Dalam dunia politik, ada istilah sederhana:

"Tidak ada makan siang yang benar-benar gratis."


Jika seseorang memperoleh dukungan melalui transaksi, maka dukungan itu sering kali berubah menjadi tagihan.

Tagihan bisa berupa proyek.

Tagihan bisa berupa posisi.

Tagihan bisa berupa perlakuan khusus.

Tagihan bisa berupa pembiaran terhadap sesuatu yang seharusnya ditindak.


Pada akhirnya, pemimpin tidak lagi bebas mengambil keputusan terbaik bagi institusi karena sebagian energinya digunakan untuk membayar utang politik yang tersembunyi. Inilah alasan mengapa integritas pada saat pemilihan jauh lebih penting daripada kecerdasan setelah terpilih, apalagi sekadar mengandalkan loyalitas seperti di partai politik.


Kepura-puraan yang Merusak Akademik

Kampus dibangun di atas satu fondasi utama: kepercayaan terhadap kebenaran. Mahasiswa percaya bahwa nilai diberikan secara adil. Dosen percaya bahwa promosi jabatan dilakukan secara objektif.

Masyarakat percaya bahwa ilmu dikembangkan dengan kejujuran. Ketika proses pemilihan pemimpin mulai dicurigai tidak bersih, kerusakan yang terjadi bukan hanya pada hasil pemilihannya.


Yang rusak adalah budaya akademiknya.

Orang mulai berpikir:

  • Jika pemimpin bisa diperoleh melalui transaksi, mengapa jabatan lain tidak?

  • Jika proses tidak transparan, mengapa saya harus bekerja berdasarkan nilai?

  • Jika uang lebih berpengaruh daripada kompetensi, mengapa saya harus berprestasi?

Sedikit demi sedikit, kepercayaan terkikis.

Dan ketika kepercayaan hilang, kampus kehilangan aset terbesarnya.


Kisah Topeng dan Cermin

Ada sebuah cerita lama. Seorang pria memiliki topeng yang sangat indah. Setiap hari ia mengenakannya sehingga semua orang menganggapnya bijaksana, ramah, dan mulia. Bertahun-tahun ia memakai topeng itu. Suatu hari ia berdiri di depan cermin dan terkejut. Ia tidak lagi mengenali wajahnya sendiri. Terlalu lama berpura-pura membuatnya lupa siapa dirinya sebenarnya. Begitulah kepura-puraan bekerja. Awalnya digunakan untuk mencapai tujuan. Lama-kelamaan justru menguasai pemiliknya.


Hikmah bagi Dunia Kampus

Pemilihan pemimpin kampus seharusnya menjadi perayaan gagasan, bukan transaksi. Karena rektor bukan sekadar manajer organisasi. Ia adalah simbol moral institusi akademik. Ketika proses pemilihannya bersih, seluruh sivitas akademika belajar tentang integritas. Ketika prosesnya dipenuhi kepura-puraan, seluruh sivitas akademika belajar bahwa nilai-nilai dapat dinegosiasikan. Dan pelajaran semacam itu jauh lebih berbahaya daripada kesalahan kurikulum mana pun.


Kepura-puraan sering kali terlihat menang dalam jangka pendek. Ia dapat menghasilkan tepuk tangan, dukungan, bahkan jabatan. Namun sejarah menunjukkan bahwa legitimasi sejati tidak lahir dari transaksi tersembunyi, melainkan dari kepercayaan yang dibangun secara jujur. Dalam dunia akademik, gelar dapat dibeli dengan usaha. Jabatan dapat diperoleh melalui pemilihan. Tetapi integritas hanya dapat diperoleh melalui karakter. Dan ketika suatu kampus kehilangan integritasnya, tidak ada jabatan setinggi apa pun yang mampu menggantikannya.


Imajinasi Saya

Mungkinkah akan ada kesepakatan bersama, kalau pemilihan Rektor, atau pemilihan apapun di kampus, tidak perlu mencari restu di partai politik atau politisi. Karena secara empiris sudah menjadii rahasia umum, bagaimana transaksionalnya tradisi di partai politik. Jika ini menjadi kesepahaman kolektif dan bisa menjadi kesadaran kolektif, WOW sekali kampus. Semoga !


Cerita di atas hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan dengan suasana kebatinan Bapak/Ibu?Saudara(i) , maklumi saja, namanya saja cerita fiktif, bisa saja mucul di imajinasi Bapak/Ibu?Saudara(i) sekalian 👀